Di dunia rata, dimana tempat kita?

Dalam perjalanan ke “India” 1492, Columbus membuktikan bahwa dunia itu bulat. Hanya mendasarkan arah perjalanannya selalu ke arah barat, Columbus mencapai daratan Amerika dan menyebut penduduknya sebagai Indian lalu kembali lagi ke negaranya, Spanyol. Bukti itu sudah cukup mengatakan dunia itu bulat. Thomas Friedman, kolumnis New York Times, mempopulerkan istilah “dunia rata”(the world is flat), sekembalinya dia dari perjalanan ke India yang menakjubkan. Berbeda dengan Columbus yang ingin menemukan sumber rempah-rempah, sutera, emas, dan mutiara di India Timur yang terkenal masa itu sebagai sumber kekayaan, Friedman ingin menemukan manusia-manusia cerdas, software, call centers, algoritma-algoritma kompleks, dan berbagai penemuan di bidang rekayasa optik sebagai sumber kekayaan masa kini.

Awalnya adalah ucapan salah satu manusia cerdas berpengaruh di Silicon Valley-nya India, Bangalore, Nandan Nilekani. CEO dari perusahaan teknologi informasi Infosys Technologies Ltd ini memberi tahu Friedman:”Tom, the playing field is being leveled”(Lapangan persaingan sudah rata). Pernyataan yang menghentak Friedman. Apa maksudnya?
Sebuah negara yang terkenal akan kemiskinannya, sekaligus sumber manusia-manusia cerdas seperti India, sekarang bisa bersaing dengan Amerika, sebuah negara superpower, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Amerika sedang mengalami tantangan hebat dari negara-negara seperti India dan China. Semua ini terjadi setelah pada 2000, investasi besar-besaran ditanam dalam bidang teknologi informasi, pemasangan kabel optik bawah laut dan satelit, dibarengi dengan harga komputer yang makin murah dan menjamur di mana-mana, penemuan search engine seperti Google, penemuan software baru, pemakaian internet dan pemakaian sistem operasi Windows yang melanda hampir seluruh belahan bumi. Semua orang bisa bersaing darimana saja asal punya kemampuan. Dunia makin rata! Orang India tidak harus pergi ke Amerika untuk bisa bekerja untuk Intel atau IBM. Ribuan orang terpilih sekarang bekerja di Bangalore untuk memenuhi order perusahaan-perusahaan di bidang teknologi informasi maupun pembuat software dari Eropa maupun Amerika. Pemberian order bisa dilakukan lewat email atau telepon. Pertemuan dengan partner atau client dari berbagai benua bisa dilakukan lewat teleconference tanpa harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Untuk bisa menjadi bagian dari global supply chain dari suatu produk seseorang atau kelompok tidak perlu pindah dari negaranya. Dengan modal komputer, software, sambungan internet dan telepon, pekerjaan oarng Amerika bisa dikerjakan dari Bangalore, India.
Pekerjaan penulisan software, pembuatan game, menerima call dari pelanggan di Amerika, semua bisa dilakukan dari Bangalore. Tidak heran kalau Anda tinggal di Kansas City atau Florida dan mengalami masalah dengan komputer Anda lalu menelepon customer service ke perusahaan dimana Anda membeli komputer lewat nomor gratis 1-800, tiba-tiba akan terdengar jawaban dengan aksen India dan berasal dari Bangalore, bukan dari satu wilayah di Amerika. Pekerjaan-pekerjaan yang di Amerika dianggap sampah seperti menerima telepon telah menjadi pekerjan bergengsi di India. Dan itu mengancam lapangan kerja di Amerika. Dengan gaji yang lebih rendah dan kualitas pekerjaan yang sama, orang-orang India telah mencuri pekerjaan-pekerjaan orang Amerika tanpa harus berpindah tempat. Perusahaan-perusahaan swasta seperti Intel, HP dan IBM lebih memilih orang-orang India untuk mendapatkan untung. Tidak heran kalau HP atau IB merencenakan untuk mem-PHK ribuan karyawannya dan memilih meng-hire karyawan baru dari India. Kalau dulu orang tua Friedman bilang”Habiskan makananmu, ingat orang India dan China pada kelaparan”, maka Friedman mewanti-wanti putrinya yang sedang belajar di Univeritas : ”Selesaikan PR kamu, rakyat di India dan China siap memangsa pekerjaanmu”.
Dengan perkembangan teknologi informasi sekarang, setiap indvidu atau kelompok kecil bisa menjalankan perkerjaan-pekerjaan soft dari rumahnya. Seorang ibu rumah tangga di Taiwan bisa menjual tasnya ke konsumen seluruh dunia lewat pasar lelang online paling populer Ebay dengan modal komputer, sambungan internet dan kamera digital. Seseorang di Hongkong dari rumahnya bisa membuka toko buku online dengan harga jauh lebih murah dengan harga buku di Amerika dan melayani semua orang di belahan bumi yang mempunyai akses internet. Setiap saat tanpa ada jam kantor.
Globalisasi gelombang ketiga sedang melanda dunia, masih menurut Friedman lewat bukunya The world is flat: A brief history of the twenty-first century (2005). Globalisasi tahap satu ditandai pertanyaan: bagaimana negara saya harus menempatkan diri di pasar global? Globalisasi tahap dua ditandai dengan pertanyaan: bagaimana perusahaan saya harus menemptakan diri di pasar global. Di globalisasi tahap tiga pertanyaannya adalah: bagaimana saya dan kelompok kecil saya harus bersaing di pasar global. Globalisasi tahap satu, dimulai ketika Columbus mendarat di Amerika hingga tahun 1800-an. Tahap kedua berlanjut ketika perusahaan swasta Belanda dan Inggris mulai menguasai perdagangan dunia hingga 2000, dimana dimulai tahap awal pemakaian worl wide web. Pemain dalam globalisasi tahap dua masih dikuasai orang-orang atau perusahaan Eropa dan Amerika. Dalam globalisasi tahap tiga pemain dari mana saja bisa mempengaruhi pasar.
Di sisi lain China telah tumbuh menjadi negara pengekspor terbesar kedua ke Amerika Serikat setelah Kanada. Sebelumnya tempat kedua diduduki oleh Mexico tetangga terdekat Amerika yang menikmati beberapa keuntungan geografis untuk mengekspor barangnya. China telah memenuhi pasar Amerika dengan produk komponen komputer, komponen elektrik, mainan anak, tekstil, barang-barang kebutuhan olah raga dan sepatu tenis. Bahkan Mexico pun harus kebanjiran mainan anak dan baju-baju bikinan China. Bahkan produk semacam lentera yang biasa digunakan anak-anak Mesir memperingati datangnya Ramadan yang sudah berlangsung ratusan tahun dibuat sendiri oleh orang Mesir kini sudah digantikan oleh produk dari China yang lebih aman, murah dan bagus desainnya. Dunia makin rata! Semua pemain bisa menendang bola ke mana saja. Tetapi pemain-pemain baru dari Asia masih terbatas dari negara India, China, Malaysia, Taiwan, Hongkong, Korea dan Singapura.

Di Mana tempat Kita?
Dalam laporan International Finance Company (lembaga di bawah World Bank) yang diberi nama Doing Business in 2004, dikutip cerita tentang Indonesia. Seorang pengusaha Indonesia ingin membuka pabrik tekstil, pelanggan sudah antri, mesin sudah siap dan rencana bisnis yang prospektif sudah dibuat. Untuk mengurus izin pendirian pabrik ini ia butuh 168 hari. Di akhir waktu dia bisa menjalankan pabriknya, para pelanggan sudah pindah ke tempat lain. Hanya perlu 2 hari untuk memulai bisnis di Australia, tetapi butuh 203 dan 215 hari masing-masing di Haiti dan Kongo. Walaupun peran individu dan kelompok kecil semakin penting dalam dunia yang rata sekarang tetapi masalah-masalah perijinan, ongkos dan fasilitas tetap memegang peran penting.
Lagi-lagi masalah birokrasi yang telah menghambat kemajuan negara-negara berkembang. Ibarat pemain bola yang main di lapangan rata, salah satu kaki pemain kita keseleo. Walaupun bebas menendang, tendangan kita lembek. Para pembeli dan penjual Indonesia harus mengalami masalah kepercayaan ketika ikut bermain di pasar lelang online seperti Ebay. Tingginya tingkat fraudulence(penipuan/pemalusan) para pengguna kartu kredit Indonesia telah menjadikan para penjual barang online mem-blacklist pembeli Indonesia. Begitu juga dengan penjual barang online dari Indonesia yang mengalami hambatan berupa mahalnya biaya pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. Belum lagi masalah teknologi seperti koneksi internet, sebuah fasilitas dunia modern untuk ikut bermain di dunia yang makin rata. Bagaimana kita bersaing dengan India menerima order dari perusahaan-perusahaan raksasa di bidang teknologi informasi atau software development di Amerika dan Eropa kalau untuk koneksi ke internet saja masih mahal dan lamban? Bagaimana kita bisa mengikuti irama supply chain network untuk ikut menjadi salah satu suplier dari produk komputer Dell seperti dilakukan negara tetangga Malaysia, bila fasilitas untuk mendukung pemenuhan order yang dituntut cepat dan tepat waktu masih terhambat urusan perijinan?
Dunia makin rata, lapangan permainan sudah sama rata, banyak pemain berbakat. Sayang banyak hal yang masih harus dibenahi untuk bisa bermain bagus untuk mengimbangi lawan.

Advertisements

Data Mining terapan dengan Matlab

Berisi cara pemakaian Matlab bagi pemula, disusul dengan penggunaan fungsi-fugsi dalam Matlab untuk berbagai kasus dalam data mining seperti regresi, klastering, support vector machine, linear discriminant analysis, metoda kernel. Buku ini sebaiknya dibeli bersamaan dengan buku Data Mining Teknik Pemanfaatan data untuk keperluan Bisnis.

Isi Buku

PENDAHULUAN

1.1 MATLAB

1.2 Memulai Matlab

1.3 Bekerja dengan matrik

1.4 Mengurutkan Data

1.5 Memuat Data ke dalam Workspace

1.6 Latihan

Regresi

2.1 Pendahuluan

2.2 Preprocessing Data

2.3 Regresi Linear

2.4 Multiple Regresi Linier

2.5 Regresi Logistik

Analisa Klaster

3.1 Pendahuluan

3.2 Klastering dengan K-means

3 Fuzzy c-means

3.4 Klastering Hirarki

Klasifier Linier

4.1 Pendahuluan

4.2 Analisis Diskriminan

4.3 K-nearest neighbor

Decision Tree

5.1 Decision Tree

5.2 Principal Component Analysis

Neural Networks

6.1 Pendahuluan

6.2 Perceptron

6.3 Backpropagasi

6.4 RECURRENT NETWORK

6.5 Learning Vector Quantization (LVQ)

6.6 Menggunakan Graphical User Interface

Metoda Kernel Untuk Problem Nonlinear

7.1 Pendahuluan

7.2 Support Vector Machine

7.4 Support Vector Regressi�n

7.5 Minimax Probability Machine

7.6 Seleksi Variabel

7.8 Kernel K-means

Pemilihan Model

8.1 Pendahuluan

8.2 Model Linier  dan Nonlinier

8.3 Cross Validasi

Harga: Rp40.000+ongkos kirim

Untuk memesan buku ini bisa menghubungi penulis, Budi Santosa, di budi_s@ie.its.ac.id 

Publikasi bukan Masalah Pendidikan (Semata)

March 25th, 2012 by budi_s@ie.its.ac.id

Apakah jumlah publikasi di jurnal internasional semata-mata menunjukkan kinerja suatu bangsa di bidang pendidikan? Jawabnya tidak.  Mengapa?

Publikasi internasional adalah muara dari banyak usaha di berbagai bidang. Bagaimana ceritanya? Mungkin nggak suatu bangsa dengan gaji dosen yang terbatas bisa diharapkan jumlah publikasi yang tinggi? Bagaimana diharapkan suatu bangsa dengan beban kerja yang tinggi untuk para dosennya diminta untuk rajin melakukan publikasi?

Satu hal yang perlu digarisbawahi ketika orang ribut mengenai publikasi internasional, yaitu bahwa urusan publikasi bukan hanya urusan pendidikan. Jumlah publikasi per jumlah penduduk sesungguhnya adalah ukuran kinerja suatu bangsa. Sulit diharapkan suatu bangsa yang berkinerja buruk di perijinan, birokrasi dan infrastruktur  akan bisa leading di bidang publikasi. Sulit diharapkan suatu bangsa dengan manajemen dan sarana transportasi amburadul diharapkan mempunyai jumlah publikasi yang bagus. Jika kita simak data jumlah publikasi dari berbagai negara, maka peringkat atas didominasi negara-negara maju seperti US, China, Inggris, Japan dan Jerman masing-masing dengan 5.3, 1.8, 1.5 dan 1.4 juta selama 1996-2010. Sementara Malaysia, tetangga terdekat dan seteru kita,  55 ribu dan kita 13 ribu untuk rentang waktu yang sama.

Jika angka-angka ini dibagi dengan jumlah penduduk maka akan semakin keliahatan bagaimana kinerja kita di bidang publikasi ini.  Nyata bahwa jumlah publikasi identik dengan kemajuan bangsa. Maka ketika negara kita ingin menaikkan jumlah publikasi sesungguhnya itu bukan hanya masalahnya depdikbud, bukan hanya masalahnya dunia kampus.

Bayangkan seorang dosen di Indonesia mengurus paspor. Paling tidak, jika tidak lewat agen atau calo, dia harus datang 3 kali ke kantor imigrasi. Paling tidak 16 jam akan dihabiskan dikantor imigrasi. Mulai dari mengumpulkan dokumen, mengisi formulir, antri foto dan ambil paspor memakan hampir 2 hari. Di negara maju permohonan paspor sangat simpel dan tidak memakan waktu. Cukup menyerahkan foto dan formulir. Paspor akan dikirim lewat pos. Jika seorang dosen indonesia kehilangan  2 hari hanya untuk mengurus paspor, di negara maju, dengan 2 hari mungkin seorang dosen bisa menghasilkan satu draft paper dari hasil penelitiannya. Belum urusan yang lain seperti mengurus KTP, pajak kendaraan, jual beli tanah, dan seterusnya, yang semua makan waktu dan tenaga. Secara agregat ini akan menurunkan produktivitas seorang dosen dalam publikasi.   Hanya dosen yag super yang bisa menulis paper yang berkualitas  di sela kesibukannya mengurus masalah akademis dan tetek bengek urusan hidup yang lain.

Dari masalah makro bangsa ke masalah mikro di dunia kampus, rasanya terlalu berat tugas kita para dosen. Seorang dosen di Indonesia pasti merasakan beratnya beban mengajar. Di PTN-PTN bagus dosen seringkali harus mengajar 3-4 mata kuliah. Jika dia mengajar s2 dan s3 beban ini akan bisa mencapai 6 mata kuliah. Jika dia dituntut untuk mengajar dengan baik, baik dari sisi kehadiran dan isi kuliah maka sudah dipastikan habis waktunya untuk mengajar. Belum lagi kalau dia harus menjabat posisi struktural. Maka akan sulit menyisakan waktu untuk memikirkan publikasi. Sebelum rasio dosen mahasiswa diperbaiki seperti di negara maju, seorang profesor hanya mengajar 2 mata kuliah satu semester, bahkan kadang satu.  Itupun masih dibantu seorang atau lebih teaching asisten yang akan mengerjakan pekerjaan menyiapkan pekerjaan rumah, memeriksa pekerjaan mahasiswa dan memberi nilai serta  memberi tutorial.  Masalah makro yang ruwet dan masalah mikro yang berat telah memberi seorang dosen di Indonesia beban berlipat.

Hal lain adalah jauhnya teori dan praktek. Banyak dosen lulusan luar negeri dengan ilmunya yang mutakhir di bidang tertentu harus menemukan kenyataan, apa yang dia pelajari dan teliti, tidak dijumpai implementasinya di kehidupan sehari-hari. Dosen yang belajar teori optimasi untuk menentukan jalur terpendek untuk menghemat ongkos transportasi dalam pengantaran barang akan frustasi karena di sini budaya kita terbalik. Pengantar surat atau barang justru seringkali menyukai jarak yang lebih panjang. Sehingga dia bisa lama di luar kantor.

Seorang peneliti di bidang data mining, mungkin akan menyerah ketika menjumpai kenyataan begitu sulitnya data didapat baik itu di bank, rumah sakit atau kantor pemerintah. Adanya gap yang tinggi antara teori dan impelementasi kadang men-discourage‘ orang untuk menulis apa yang dia teliti. Sebagian besar pekerjaan yang berkaitan dengan masalah di industri dan perusahaan atau lembaga lain biasanya justru diselesaikan dengan teknik-teknik yang sederhana. Hal-hal yang dipentingkan adalah laporan pekerjaannya. Bukan menulis apa yang dihasilkan dari pekerjaan ini untuk publikasi.

Banyak dosen yang sangat sibuk menjadi konsultan untuk perusahaan namun miskin publikasi. Banyak dosen yang rajin menulis untuk publikasi tapi jarang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi di masyarakat. Jika saja ada kondisi ideal dimana apa yang berkembang di masyarakat sejajar dengan apa yang berkembang dalam dunia akademis maka publikasi akan lebih giat dilakukan para dosen.

Maksud baik kemendikbud untuk mempublikasikan hasil karya mahasiswa patut kita hargai sebagai usaha awal meningkatkan indeks publikasi kita. Namun apakah usaha ini akan berhasil menaikkan indeks publikasi kita, itu yang masih perlu waktu. Sering kali kita keluar dengan ide-ide baru yang cemerlang. Namun sesering itu juga ide itu pada tataran implementasi hanya akan menambah beban baru yang kehilangan rohnya,  yang akhirnya justru kontraproduktif.

Rasanya upaya peningkatan publikasi hanya akan berhasil jika urusan-urusan lain di luar urusan pendidikan yang mendukungnya seperti birokrasi dan perizinan, infrastruktur dan transportasi, kepegawaian, rasio dosen dan mahasiswa dan lain-lain ikut diperbaiki. Tanpa itu usaha publikasi karya mahasiswa dan dosen hanya akan menjadi syarat format kelulusan tanpa makna.

Menunggu Jurus JK: Konversi BBM ke BBG

Jaman batu berakhir bukan karena persediaan batu menipis, tetapi karena ada alternatif baru yang lebih baik. Begitulah sejarah jaman ketika alternatif baru ditemukan, maka cara lama yang kurang menguntungkan ditinggal. Bagaimana mengakhiri jaman BBM? Kita menunggu terobosan ala Jusuf Kalla: konversi bensin (BBM) ke gas (BBG).

Fakta menunjukkan bahwa harga BBM di pasar internasional sudah hampir dua kali lipat harga premium di Indonesia. Sementara gas hanya sekitar Rp 3500 tanpa subsidi untuk volume setara 1 liter bensin. Mengapa kita tidak beralih? Itu yang harus ‘dipaksakan’ dan difasilitasi oleh pemerintah. JK pernah melakukan langkah luar biasa dengan memaksa pedagang dan rumah tangga beralih dari minyak tanah ke gas. Subsidi untuk tabung gas jauh lebih murah dibanding subsidi untuk minyak tanah.  Kini sulit ditemukan orang memasak menggunakan minyak tanah. Seandainya JK hanya berwacana akan murahnya gas tanpa bertindak luar biasa, ya rakyat tetap memakai minyak tanah. Karena hanya pilihan itu yang tersedia. JK sukses walaupun diawal tidak kurang-kurang kritik dan perlawanan dilayangkan berbagai pihak ke dia. Namun ide yang solutif itu tetap jalan terus dan ternyata sukses.

Kini ketika pemerintah harus mensubsidi hampir Rp 4500 per liter bensin, maka sudah saatnya kita beralih ke gas untuk kendaraan. Subsidi yang jumlahnya hampir 197 trilyun, kebanyakan dinikmati orang yang tidak berhak. Banyak mobil mewah yag mestinya memakai pertamax tetap mengunakan premium. Artinya mereka yang mestinya tidak pantas disubsidi akan menerima subsidi.

Jalan keluar sementara yang ditawarkan pemerintah adalah dengan memberikan plat nomor yang berbeda warna untuk mobil mewah(Jawa Pos 6 April). Tentu saja ini akan efektif kalau para petugas di lapangan akan taat melaksanakan aturan. Begitu juga perilaku pemakai mobil mewah sesuai aturan. Jalan keluar ini hanya untuk menjaga subsidi tidak jatuh pada yang tidak berhak. Namun kita perlu merancang jalan keluar yang lebih terintegrasi dengan memperhatikan efisiensi bahan bakar sekaligus kemampuan negara. Selain itu solusi ini juga jangan terlalu lama diimplementasikan. Karena negara semakin banyak membayar subsidi untuk BBM yang semestinya bisa digunakan untuk keperluan yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dll.

Salah satu jalan keluar jangka menengah adalah berpindah dari BBM ke BBG untuk kendaraan bermotor.  Tentu saja ada jalan keluar yang lain seperti diusulkan menteri BUMN, Dahlan Iskan, untuk menciptakan mobil listrik. Tetapi jalan keluar ini butuh waktu lebih lama. Setelah jelas hitung-hitungannya bahwa BBG jauh lebih murah dan ketersediaan di bumi kita masih berlimpah, kita nantikan langkah pemerintah untuk menindaklanjuti. Langkah ini berupa penyediaan gas di area publik (SPBU) yang mudah diakses pemakai kendaraan dan yang kedua penyediaan converter kits dengan segala aturan subsidinya yang bisa memfasilitasi perubahan ‘minuman’  kendaraan bermotor  dari BBM menjadi BBG. Sekarang tinggal  siapa pejabat pemerintah yang bisa mengemban tugas yang dulu pernah dilakukan oleh JK? Tanpa terobosan seperti itu akan susah kita beralih ke pemakaian BBG. Kita akan cenderung merasa BBM masih layak dipakai. Selama BBM masih disubsidi pemerintah maka status ‘kemurahan’ dan keefisienan BBG tidak akan muncul.

Bagaimana dengan isu keselamatan kalau menggunakan BBG? Beberapa pihak sempat khawatir akan terjadinya ledakan seperti terjadi pada kompor gas ketika beralih ke BBG. Di negera tetangga, Malaysia, mobil-mobil sudah beralih memakai BBG.  Begitu juga di Australia mobil-mobil sudah menggunakan BBG tanpa ada masalah dengan keselamatan. Kita punya industri-industri yang siap memproduksi komponen-komponen yang diperlukan untuk menyalurkan gas dari SPBG ke mobil. PT DI atau PT Pindad rasanya bisa diandalkan untuk melakukan tugas ini. Jadi isu keselamatan akan terjadi ledakan bisa diminimalisir.  Wamen ESDM, Wijoyono Partowidagdo menegaskan bahwa  SPBU sekarang bisa dialih fungsikan menjadi SPBG. Hanya perlu mengubah peraturan agar supplier pindah dari Pertamina ke PGN untuk mensupply gasnya.

Kalau kita cermati, ternyata negara tetangga kita,  Malaysia, dengan cadangan BBM lebih besar dari yang kita miliki justru sudah berpindah ke BBG.  Maka akan menjadi ironis, jika BBM tetap dipakai padahal cadangan kita semakin menipis. Di sisi lain kalau kita impor BBM harganya jauh lebih mahal dari BBG. Ini adalah pemborosan yang berbahaya.

Kini kita tunggu jalan keluar yang cerdas dari pemerintah  untuk jangka menengah agar kita bisa berpindah dari BBM ke BBG. Sehingga untuk beberapa tahun ke depan kita tidak hanya kan menghabiskan energi memperdebatkan berapa harga BBM. Siapa akan mengganti peran JK mengkonversi BBM ke BBG dengan segala keyakinan dan keberaniannya?

Buku Matlab untuk Statistika dan Optimasi

Buku yang menyuguhkan bagaimana pemakaian Matlab untuk statistika dan optimasi. Diawali dengan pendahuluan bagaimana cara menggunakan Matlab, dilanjutkan dengan aplikasi Matlab untuk beberapa kasus statistik seperti pembuatan histogram, menguji hipotesis, implementasi Anova dan aplikasi lain untuk disain eksperimen. Pada baba berikutnya dilengkapi dengan aplikasi untuk linear programming, quadratic programmmming, nonlinear programming, binary integer programmming, dsb.

Buku sangat layak dibaca bagi mereka yang ingin mengimplementasikan statistik dan teknik optimasi dalam kasus  nyata. Mudah dibaca dan disertai dengan contoh-contoh yang mudah dipahami.

Isi Buku

BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.2 Memulai Matlab 2
1.3 Bekerja dengan matrik 13
1.4 Mengurutkan Data 16
1.5 Memuat Data ke dalam Workspace 17
1.6 Latihan 20


BAB 2 PEMROGRAMAN DENGAN MATLAB 21
2.1 Pendahuluan 21
2.2 Pemrograman 21
2.4 Pemakaian Loop dalam Matlab 24
2.5 Membuat Grafik 25
2.6 Perintah Yang Tidak Dieksekusi 26
2.7 Memanggil suatu fungsi dari program/fungsi lain 27
2.8 Latihan 31


BAB 3 STATISTIK 33
3.1 Pendahuluan 33
3.2 Statistik Deskriptif 33
3.3 Histogram 35
3.4 Statistik Inferensi 38
viii Statistik dan Optimasi Terapan untuk Rekayasa dan Bisnis
3.5 Ancova 56
3.6 Pencocokkan fungsi nonlinier 65
3.7 Menguji distribusi 67
3.8 Bootstrap 68
3.9 Latihan 71


BAB 4 OPTIMASI 73
4.1 Pendahuluan 73
4.2 Penggunaan Optimization Toolbox dalam Matlab 74
4.3 Optimasi Tanpa Pembatas (Unconstrained optimization)
Untuk Fungsi Satu Variabel 75
4.4 Optimasi Tanpa Pembatas Untuk Fungsi Dengan Multi Variabel 77
4.5 Optimasi Dengan Pembatas (Constrained Optimization)
Untuk Fungsi Dengan Multi Variabel 81
4.6 Menggunakan symbolic math untuk menyelesaikan berbagai
masalah dalam aljabar linier 100


BAB 5 APLIKASI KASUS RIIL 105
5.1 Robust Support Vector Machines 105
5.2 Capital Budgeting 111
5.3 Kasus Pabrik Kimia 112
5.4 Hubungan stress-strain 115
5.5 Keseimbangan Sistem 2-pegas 117
5.6 Hubungan Semi-empirik P-V-T 119
5.7 Perencanaan Produksi Multi Kriteria 120
5.8 Knapsack 122
5. 9 Sistem 2 Bar 123
5.10 Latihan 125

Harga: Rp40.000+ongkos kirim

Untuk memesan buku ini bisa menghubungi penulis, Budi Santosa, di budi_s@ie.its.ac.id

Manajemen Proyek

Manajemen proyek kini merupakan keharusan, bukan lagi sekedar pilihan. Ini berarti bahwa pekerjaan-pekerjaan tertentu akan lebih efisien dan efektif jika dikelola dalam kerangka proyek dan bukan diperlakukan sebagai pekerjaan biasa. Dengan demikian diperlukan penerapan manajemen proyek secara benar. Maka memahami manajemen proyek secara benar sangatlah penting dalam rangka bisa melaksanakannya.

Buku ini membahas manajemen proyek sedemikian rupa hingga mudah untuk dipahami bagi para mahasiswa, pengajar  maupun praktisi. Di beberapa universitas, Manajemen Proyek adalah mata kuliah wajib di Jurusan Teknik Industri. Manajemen proyek juga menjadi kuliah wajib di Jurusan Teknik Sipil maupun di program Magister Manajemen bidang manajemen konstruksi dan manajemen Industri. Buku ini layak dibaca bagi mahasiswa S1 dan S2 yang sedang mengambil mata kuliah Manajemen Proyek. Buku ini menyajikan teori dan implementasi mengenai manajemen proyek. Setelah membaca buku ini diharap mahasiswa memahami konsep, metodologi dan implementasi dari manajemen proyek.

Isi Buku
Konsep dan Pengertian 15

Siklus Hidup Proyek 27

ORGANISASI PROYEK 39

Tim Proyek 53

Perencanaan Proyek 61

Penjadwalan Proyek 71
Metoda Lintasan Kritis dan Alokasi Sumberdaya 89

Estimasi Biaya dan Penganggaran 102

Pengendalian Proyek 122

Evaluasi, Audit, Pelaporan dan Penyelesaian Proyek 138

Pemilihan Proyek 148

Mengelola Konflik Dalam Proyek 160

Manajemen Risiko Proyek 174

Critial Chain Project Management 192

Harga: Rp 60.000+ongkos kirim

Untuk memesan buku ini bisa menghubungi penulis, Budi Santosa di budi_s@ie.its.ac.id atau shima1907@yahoo.com

Data Mining,Teknik Pemanfaatan Data untuk Keperluan Bisnis

Buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh mereka yang memerlukan dasar-dasar teori untuk Data Mining. Sangat mudah dipahami oleh pemula. Ada di toko-toko buku di Indonesia, terutama Toga Mas. Berisi beberapa teknik data mining seperti : klastering, decision tree, K-nearest neighbor, k-means, support vector machines, naive bayes, association rule, artificial neural networks, linear discriminant analysis, dll. Disertai juga bab pendahuluan untuk mengantar pembaca memahami data mining secara lebih mudah. Juga disertai contoh aplikasi dengan menggunakan software Matlab.
Isi Buku

1 Pendahuluan
2 Beberapa Konsep Dasar
2.2 Pengenalan Pola, Data Mining dan Machine Learning
2.3 Variabel, Fitur dan Atribut
2.4 Supervised dan Unsupervised Learning
2.5 Jenis Nilai Variabel
2.6 Klasifikasi dan Pendekatan Fungsi (Regresi)
2.7 Klasifikasi Dua Kelas dan Multi Kelas
2.8 Transformasi Data
2.9 Missing Value .
2.18 Lagrange Multiplier

3 Teknik Klastering
3.3 Klastering Hirarki (Hierarchical Clustering)
3.3.1 Kemiripan dan Ketidakmiripan .
3.3.2 Dendrogram
3.4 K-means
3.5 Fuzzy K-means
3.6 Fungsi Kriteria Untuk klastering
3.7 Implementasi Klastering dengan Matlab
3.8 K-Nearest Neighbor

4 Analisis Diskriminan
4.3 Ide Dasar LDA Dua kelas .
4.5 Analisis Diskriminan untuk Multi Kelas
5 Klasifikasi Berdasarkan Teorema Bayes
5.4 Bayes Learning .
5.5 Klasifier Naive Bayes

6 Decision Tree
6.4 Bagaimana Memilih Atribut? . . .
6.4.1 Beberapa Kriteria Pemilihan Atribut . . . .
6.5 Jenis-jenis Decision Tree . . . . .
6.5.1 CART . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6.5.2 ID3 dan C4.5 . . . . . . . . . . . . . .

7 Artificial Neural Networks
7.3 Mengapa Perlu ANN? . . . .
7.4 Model Komputasi untuk Neuron . . .
7.5 Model Neuron . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7.6 Macam-macam Fungsi Aktivasi . . . . . . .
7.7 Single-Layer Perceptrons . . . . . .
7.8 Prosedur Learning . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7.8.1 Perceptron . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7.8.2 Gradient Descent . . . . . . . . .
7.8.3 Metoda Newton . . . . . . . . . . . . .
7.8.4 Least Mean Square . . . . . . . . . . . .
7.9 Algoritma Back-Propagasi . . . . .
7.10 Validasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7.12 Implementasi ANN dengan Matlab . . . . . . .

8 Support Vector Machines 145
8.1 Tujuan Instruksional . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8.2 Ide Dasar Support Vector Machine . . . . . . .
8.3 Formulasi Matematis . . . . . . . . . . . . .
8.4 Metoda Kernel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8.5 Implementasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8.6 Neural Networks (ANN) dan SVM . . . . . . . . . . . .
8.7 Implementasi SVM dengan Matlab . . . . . .

.
9 Support Vector Machines untuk Multi-Kelas
9.3 Metoda Satu-lawan-Semua (SLA) . . . . .
9.4 Metoda Satu-lawan-Satu (SLU) . . .
9.5 One Optimization Problem . . . . . .

10 Regresi Linier
10.2 Regresi Linier Sederhana . . . . . . . . .
10.3 Regresi Linier Multivariate . . . . . . . . .
10.4 Regresi Logistik

11 Support Vector Regresi
11.4 Formulasi SVR dalam QP Standar . . . . . . . .
11.5 Loss Function . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
11.6 Implementasi SVR Dengan Matlab

12 Pemilihan Variabel
12.3 Principal Component Analysis . . . . . . . . .
12.4 Seleksi Variabel dengan Branch and Bound . . . .
12.5 Metoda Sub-optimal . . . . . . .
12.5.1 Genetic algorithm . . . . . . .
12.5.2 Sequential search (direct) . . . . . . .
12.5.3 Sequential search (dynamic) . . . . .
12.6 Seleksi Variabel Dengan Support Vector Machine

13 Metoda Berbasis Kernel
13.3 Kernel K-means . . . . . . . . . . . . .
13.4 Kernel LDA . . . . . . . . . .
13.5 Least Square Support Vector Machine .
13.6 Minimax Probability Machines . . . .
13.6.1 Regresi . . . . . . .
13.6.2 Klasifikasi . . . . . .
13.7 Cross-validation . . . . . . . . . . . . . .
13.8 Pemilihan Metoda Prediksi . . . . .

14 Aturan Asosiasi
14.3 Aturan Asosiasi Dalam Transaksi . . . . . .
14.5 Memilih Aturan Yang Kuat . . . . .
14.6 Lift Rasio . . . . .
14.7 Format Data . .

Harga: Rp 60.000+ongkos kirim

Untuk memesan buku ini bisa menghubungi penulis, Budi Santosa di budi_s@ie.its.ac.id atau shima1907@yahoo.com