Menunggu Jurus JK: Konversi BBM ke BBG

Jaman batu berakhir bukan karena persediaan batu menipis, tetapi karena ada alternatif baru yang lebih baik. Begitulah sejarah jaman ketika alternatif baru ditemukan, maka cara lama yang kurang menguntungkan ditinggal. Bagaimana mengakhiri jaman BBM? Kita menunggu terobosan ala Jusuf Kalla: konversi bensin (BBM) ke gas (BBG).

Fakta menunjukkan bahwa harga BBM di pasar internasional sudah hampir dua kali lipat harga premium di Indonesia. Sementara gas hanya sekitar Rp 3500 tanpa subsidi untuk volume setara 1 liter bensin. Mengapa kita tidak beralih? Itu yang harus ‘dipaksakan’ dan difasilitasi oleh pemerintah. JK pernah melakukan langkah luar biasa dengan memaksa pedagang dan rumah tangga beralih dari minyak tanah ke gas. Subsidi untuk tabung gas jauh lebih murah dibanding subsidi untuk minyak tanah.  Kini sulit ditemukan orang memasak menggunakan minyak tanah. Seandainya JK hanya berwacana akan murahnya gas tanpa bertindak luar biasa, ya rakyat tetap memakai minyak tanah. Karena hanya pilihan itu yang tersedia. JK sukses walaupun diawal tidak kurang-kurang kritik dan perlawanan dilayangkan berbagai pihak ke dia. Namun ide yang solutif itu tetap jalan terus dan ternyata sukses.

Kini ketika pemerintah harus mensubsidi hampir Rp 4500 per liter bensin, maka sudah saatnya kita beralih ke gas untuk kendaraan. Subsidi yang jumlahnya hampir 197 trilyun, kebanyakan dinikmati orang yang tidak berhak. Banyak mobil mewah yag mestinya memakai pertamax tetap mengunakan premium. Artinya mereka yang mestinya tidak pantas disubsidi akan menerima subsidi.

Jalan keluar sementara yang ditawarkan pemerintah adalah dengan memberikan plat nomor yang berbeda warna untuk mobil mewah(Jawa Pos 6 April). Tentu saja ini akan efektif kalau para petugas di lapangan akan taat melaksanakan aturan. Begitu juga perilaku pemakai mobil mewah sesuai aturan. Jalan keluar ini hanya untuk menjaga subsidi tidak jatuh pada yang tidak berhak. Namun kita perlu merancang jalan keluar yang lebih terintegrasi dengan memperhatikan efisiensi bahan bakar sekaligus kemampuan negara. Selain itu solusi ini juga jangan terlalu lama diimplementasikan. Karena negara semakin banyak membayar subsidi untuk BBM yang semestinya bisa digunakan untuk keperluan yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dll.

Salah satu jalan keluar jangka menengah adalah berpindah dari BBM ke BBG untuk kendaraan bermotor.  Tentu saja ada jalan keluar yang lain seperti diusulkan menteri BUMN, Dahlan Iskan, untuk menciptakan mobil listrik. Tetapi jalan keluar ini butuh waktu lebih lama. Setelah jelas hitung-hitungannya bahwa BBG jauh lebih murah dan ketersediaan di bumi kita masih berlimpah, kita nantikan langkah pemerintah untuk menindaklanjuti. Langkah ini berupa penyediaan gas di area publik (SPBU) yang mudah diakses pemakai kendaraan dan yang kedua penyediaan converter kits dengan segala aturan subsidinya yang bisa memfasilitasi perubahan ‘minuman’  kendaraan bermotor  dari BBM menjadi BBG. Sekarang tinggal  siapa pejabat pemerintah yang bisa mengemban tugas yang dulu pernah dilakukan oleh JK? Tanpa terobosan seperti itu akan susah kita beralih ke pemakaian BBG. Kita akan cenderung merasa BBM masih layak dipakai. Selama BBM masih disubsidi pemerintah maka status ‘kemurahan’ dan keefisienan BBG tidak akan muncul.

Bagaimana dengan isu keselamatan kalau menggunakan BBG? Beberapa pihak sempat khawatir akan terjadinya ledakan seperti terjadi pada kompor gas ketika beralih ke BBG. Di negera tetangga, Malaysia, mobil-mobil sudah beralih memakai BBG.  Begitu juga di Australia mobil-mobil sudah menggunakan BBG tanpa ada masalah dengan keselamatan. Kita punya industri-industri yang siap memproduksi komponen-komponen yang diperlukan untuk menyalurkan gas dari SPBG ke mobil. PT DI atau PT Pindad rasanya bisa diandalkan untuk melakukan tugas ini. Jadi isu keselamatan akan terjadi ledakan bisa diminimalisir.  Wamen ESDM, Wijoyono Partowidagdo menegaskan bahwa  SPBU sekarang bisa dialih fungsikan menjadi SPBG. Hanya perlu mengubah peraturan agar supplier pindah dari Pertamina ke PGN untuk mensupply gasnya.

Kalau kita cermati, ternyata negara tetangga kita,  Malaysia, dengan cadangan BBM lebih besar dari yang kita miliki justru sudah berpindah ke BBG.  Maka akan menjadi ironis, jika BBM tetap dipakai padahal cadangan kita semakin menipis. Di sisi lain kalau kita impor BBM harganya jauh lebih mahal dari BBG. Ini adalah pemborosan yang berbahaya.

Kini kita tunggu jalan keluar yang cerdas dari pemerintah  untuk jangka menengah agar kita bisa berpindah dari BBM ke BBG. Sehingga untuk beberapa tahun ke depan kita tidak hanya kan menghabiskan energi memperdebatkan berapa harga BBM. Siapa akan mengganti peran JK mengkonversi BBM ke BBG dengan segala keyakinan dan keberaniannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s