Di dunia rata, dimana tempat kita?

Dalam perjalanan ke “India” 1492, Columbus membuktikan bahwa dunia itu bulat. Hanya mendasarkan arah perjalanannya selalu ke arah barat, Columbus mencapai daratan Amerika dan menyebut penduduknya sebagai Indian lalu kembali lagi ke negaranya, Spanyol. Bukti itu sudah cukup mengatakan dunia itu bulat. Thomas Friedman, kolumnis New York Times, mempopulerkan istilah “dunia rata”(the world is flat), sekembalinya dia dari perjalanan ke India yang menakjubkan. Berbeda dengan Columbus yang ingin menemukan sumber rempah-rempah, sutera, emas, dan mutiara di India Timur yang terkenal masa itu sebagai sumber kekayaan, Friedman ingin menemukan manusia-manusia cerdas, software, call centers, algoritma-algoritma kompleks, dan berbagai penemuan di bidang rekayasa optik sebagai sumber kekayaan masa kini.

Awalnya adalah ucapan salah satu manusia cerdas berpengaruh di Silicon Valley-nya India, Bangalore, Nandan Nilekani. CEO dari perusahaan teknologi informasi Infosys Technologies Ltd ini memberi tahu Friedman:”Tom, the playing field is being leveled”(Lapangan persaingan sudah rata). Pernyataan yang menghentak Friedman. Apa maksudnya?
Sebuah negara yang terkenal akan kemiskinannya, sekaligus sumber manusia-manusia cerdas seperti India, sekarang bisa bersaing dengan Amerika, sebuah negara superpower, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Amerika sedang mengalami tantangan hebat dari negara-negara seperti India dan China. Semua ini terjadi setelah pada 2000, investasi besar-besaran ditanam dalam bidang teknologi informasi, pemasangan kabel optik bawah laut dan satelit, dibarengi dengan harga komputer yang makin murah dan menjamur di mana-mana, penemuan search engine seperti Google, penemuan software baru, pemakaian internet dan pemakaian sistem operasi Windows yang melanda hampir seluruh belahan bumi. Semua orang bisa bersaing darimana saja asal punya kemampuan. Dunia makin rata! Orang India tidak harus pergi ke Amerika untuk bisa bekerja untuk Intel atau IBM. Ribuan orang terpilih sekarang bekerja di Bangalore untuk memenuhi order perusahaan-perusahaan di bidang teknologi informasi maupun pembuat software dari Eropa maupun Amerika. Pemberian order bisa dilakukan lewat email atau telepon. Pertemuan dengan partner atau client dari berbagai benua bisa dilakukan lewat teleconference tanpa harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Untuk bisa menjadi bagian dari global supply chain dari suatu produk seseorang atau kelompok tidak perlu pindah dari negaranya. Dengan modal komputer, software, sambungan internet dan telepon, pekerjaan oarng Amerika bisa dikerjakan dari Bangalore, India.
Pekerjaan penulisan software, pembuatan game, menerima call dari pelanggan di Amerika, semua bisa dilakukan dari Bangalore. Tidak heran kalau Anda tinggal di Kansas City atau Florida dan mengalami masalah dengan komputer Anda lalu menelepon customer service ke perusahaan dimana Anda membeli komputer lewat nomor gratis 1-800, tiba-tiba akan terdengar jawaban dengan aksen India dan berasal dari Bangalore, bukan dari satu wilayah di Amerika. Pekerjaan-pekerjaan yang di Amerika dianggap sampah seperti menerima telepon telah menjadi pekerjan bergengsi di India. Dan itu mengancam lapangan kerja di Amerika. Dengan gaji yang lebih rendah dan kualitas pekerjaan yang sama, orang-orang India telah mencuri pekerjaan-pekerjaan orang Amerika tanpa harus berpindah tempat. Perusahaan-perusahaan swasta seperti Intel, HP dan IBM lebih memilih orang-orang India untuk mendapatkan untung. Tidak heran kalau HP atau IB merencenakan untuk mem-PHK ribuan karyawannya dan memilih meng-hire karyawan baru dari India. Kalau dulu orang tua Friedman bilang”Habiskan makananmu, ingat orang India dan China pada kelaparan”, maka Friedman mewanti-wanti putrinya yang sedang belajar di Univeritas : ”Selesaikan PR kamu, rakyat di India dan China siap memangsa pekerjaanmu”.
Dengan perkembangan teknologi informasi sekarang, setiap indvidu atau kelompok kecil bisa menjalankan perkerjaan-pekerjaan soft dari rumahnya. Seorang ibu rumah tangga di Taiwan bisa menjual tasnya ke konsumen seluruh dunia lewat pasar lelang online paling populer Ebay dengan modal komputer, sambungan internet dan kamera digital. Seseorang di Hongkong dari rumahnya bisa membuka toko buku online dengan harga jauh lebih murah dengan harga buku di Amerika dan melayani semua orang di belahan bumi yang mempunyai akses internet. Setiap saat tanpa ada jam kantor.
Globalisasi gelombang ketiga sedang melanda dunia, masih menurut Friedman lewat bukunya The world is flat: A brief history of the twenty-first century (2005). Globalisasi tahap satu ditandai pertanyaan: bagaimana negara saya harus menempatkan diri di pasar global? Globalisasi tahap dua ditandai dengan pertanyaan: bagaimana perusahaan saya harus menemptakan diri di pasar global. Di globalisasi tahap tiga pertanyaannya adalah: bagaimana saya dan kelompok kecil saya harus bersaing di pasar global. Globalisasi tahap satu, dimulai ketika Columbus mendarat di Amerika hingga tahun 1800-an. Tahap kedua berlanjut ketika perusahaan swasta Belanda dan Inggris mulai menguasai perdagangan dunia hingga 2000, dimana dimulai tahap awal pemakaian worl wide web. Pemain dalam globalisasi tahap dua masih dikuasai orang-orang atau perusahaan Eropa dan Amerika. Dalam globalisasi tahap tiga pemain dari mana saja bisa mempengaruhi pasar.
Di sisi lain China telah tumbuh menjadi negara pengekspor terbesar kedua ke Amerika Serikat setelah Kanada. Sebelumnya tempat kedua diduduki oleh Mexico tetangga terdekat Amerika yang menikmati beberapa keuntungan geografis untuk mengekspor barangnya. China telah memenuhi pasar Amerika dengan produk komponen komputer, komponen elektrik, mainan anak, tekstil, barang-barang kebutuhan olah raga dan sepatu tenis. Bahkan Mexico pun harus kebanjiran mainan anak dan baju-baju bikinan China. Bahkan produk semacam lentera yang biasa digunakan anak-anak Mesir memperingati datangnya Ramadan yang sudah berlangsung ratusan tahun dibuat sendiri oleh orang Mesir kini sudah digantikan oleh produk dari China yang lebih aman, murah dan bagus desainnya. Dunia makin rata! Semua pemain bisa menendang bola ke mana saja. Tetapi pemain-pemain baru dari Asia masih terbatas dari negara India, China, Malaysia, Taiwan, Hongkong, Korea dan Singapura.

Di Mana tempat Kita?
Dalam laporan International Finance Company (lembaga di bawah World Bank) yang diberi nama Doing Business in 2004, dikutip cerita tentang Indonesia. Seorang pengusaha Indonesia ingin membuka pabrik tekstil, pelanggan sudah antri, mesin sudah siap dan rencana bisnis yang prospektif sudah dibuat. Untuk mengurus izin pendirian pabrik ini ia butuh 168 hari. Di akhir waktu dia bisa menjalankan pabriknya, para pelanggan sudah pindah ke tempat lain. Hanya perlu 2 hari untuk memulai bisnis di Australia, tetapi butuh 203 dan 215 hari masing-masing di Haiti dan Kongo. Walaupun peran individu dan kelompok kecil semakin penting dalam dunia yang rata sekarang tetapi masalah-masalah perijinan, ongkos dan fasilitas tetap memegang peran penting.
Lagi-lagi masalah birokrasi yang telah menghambat kemajuan negara-negara berkembang. Ibarat pemain bola yang main di lapangan rata, salah satu kaki pemain kita keseleo. Walaupun bebas menendang, tendangan kita lembek. Para pembeli dan penjual Indonesia harus mengalami masalah kepercayaan ketika ikut bermain di pasar lelang online seperti Ebay. Tingginya tingkat fraudulence(penipuan/pemalusan) para pengguna kartu kredit Indonesia telah menjadikan para penjual barang online mem-blacklist pembeli Indonesia. Begitu juga dengan penjual barang online dari Indonesia yang mengalami hambatan berupa mahalnya biaya pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. Belum lagi masalah teknologi seperti koneksi internet, sebuah fasilitas dunia modern untuk ikut bermain di dunia yang makin rata. Bagaimana kita bersaing dengan India menerima order dari perusahaan-perusahaan raksasa di bidang teknologi informasi atau software development di Amerika dan Eropa kalau untuk koneksi ke internet saja masih mahal dan lamban? Bagaimana kita bisa mengikuti irama supply chain network untuk ikut menjadi salah satu suplier dari produk komputer Dell seperti dilakukan negara tetangga Malaysia, bila fasilitas untuk mendukung pemenuhan order yang dituntut cepat dan tepat waktu masih terhambat urusan perijinan?
Dunia makin rata, lapangan permainan sudah sama rata, banyak pemain berbakat. Sayang banyak hal yang masih harus dibenahi untuk bisa bermain bagus untuk mengimbangi lawan.

Advertisements

Data Mining terapan dengan Matlab

Berisi cara pemakaian Matlab bagi pemula, disusul dengan penggunaan fungsi-fugsi dalam Matlab untuk berbagai kasus dalam data mining seperti regresi, klastering, support vector machine, linear discriminant analysis, metoda kernel. Buku ini sebaiknya dibeli bersamaan dengan buku Data Mining Teknik Pemanfaatan data untuk keperluan Bisnis.

Isi Buku

PENDAHULUAN

1.1 MATLAB

1.2 Memulai Matlab

1.3 Bekerja dengan matrik

1.4 Mengurutkan Data

1.5 Memuat Data ke dalam Workspace

1.6 Latihan

Regresi

2.1 Pendahuluan

2.2 Preprocessing Data

2.3 Regresi Linear

2.4 Multiple Regresi Linier

2.5 Regresi Logistik

Analisa Klaster

3.1 Pendahuluan

3.2 Klastering dengan K-means

3 Fuzzy c-means

3.4 Klastering Hirarki

Klasifier Linier

4.1 Pendahuluan

4.2 Analisis Diskriminan

4.3 K-nearest neighbor

Decision Tree

5.1 Decision Tree

5.2 Principal Component Analysis

Neural Networks

6.1 Pendahuluan

6.2 Perceptron

6.3 Backpropagasi

6.4 RECURRENT NETWORK

6.5 Learning Vector Quantization (LVQ)

6.6 Menggunakan Graphical User Interface

Metoda Kernel Untuk Problem Nonlinear

7.1 Pendahuluan

7.2 Support Vector Machine

7.4 Support Vector Regressi�n

7.5 Minimax Probability Machine

7.6 Seleksi Variabel

7.8 Kernel K-means

Pemilihan Model

8.1 Pendahuluan

8.2 Model Linier  dan Nonlinier

8.3 Cross Validasi

Harga: Rp40.000+ongkos kirim

Untuk memesan buku ini bisa menghubungi penulis, Budi Santosa, di budi_s@ie.its.ac.id 

Publikasi bukan Masalah Pendidikan (Semata)

March 25th, 2012 by budi_s@ie.its.ac.id

Apakah jumlah publikasi di jurnal internasional semata-mata menunjukkan kinerja suatu bangsa di bidang pendidikan? Jawabnya tidak.  Mengapa?

Publikasi internasional adalah muara dari banyak usaha di berbagai bidang. Bagaimana ceritanya? Mungkin nggak suatu bangsa dengan gaji dosen yang terbatas bisa diharapkan jumlah publikasi yang tinggi? Bagaimana diharapkan suatu bangsa dengan beban kerja yang tinggi untuk para dosennya diminta untuk rajin melakukan publikasi?

Satu hal yang perlu digarisbawahi ketika orang ribut mengenai publikasi internasional, yaitu bahwa urusan publikasi bukan hanya urusan pendidikan. Jumlah publikasi per jumlah penduduk sesungguhnya adalah ukuran kinerja suatu bangsa. Sulit diharapkan suatu bangsa yang berkinerja buruk di perijinan, birokrasi dan infrastruktur  akan bisa leading di bidang publikasi. Sulit diharapkan suatu bangsa dengan manajemen dan sarana transportasi amburadul diharapkan mempunyai jumlah publikasi yang bagus. Jika kita simak data jumlah publikasi dari berbagai negara, maka peringkat atas didominasi negara-negara maju seperti US, China, Inggris, Japan dan Jerman masing-masing dengan 5.3, 1.8, 1.5 dan 1.4 juta selama 1996-2010. Sementara Malaysia, tetangga terdekat dan seteru kita,  55 ribu dan kita 13 ribu untuk rentang waktu yang sama.

Jika angka-angka ini dibagi dengan jumlah penduduk maka akan semakin keliahatan bagaimana kinerja kita di bidang publikasi ini.  Nyata bahwa jumlah publikasi identik dengan kemajuan bangsa. Maka ketika negara kita ingin menaikkan jumlah publikasi sesungguhnya itu bukan hanya masalahnya depdikbud, bukan hanya masalahnya dunia kampus.

Bayangkan seorang dosen di Indonesia mengurus paspor. Paling tidak, jika tidak lewat agen atau calo, dia harus datang 3 kali ke kantor imigrasi. Paling tidak 16 jam akan dihabiskan dikantor imigrasi. Mulai dari mengumpulkan dokumen, mengisi formulir, antri foto dan ambil paspor memakan hampir 2 hari. Di negara maju permohonan paspor sangat simpel dan tidak memakan waktu. Cukup menyerahkan foto dan formulir. Paspor akan dikirim lewat pos. Jika seorang dosen indonesia kehilangan  2 hari hanya untuk mengurus paspor, di negara maju, dengan 2 hari mungkin seorang dosen bisa menghasilkan satu draft paper dari hasil penelitiannya. Belum urusan yang lain seperti mengurus KTP, pajak kendaraan, jual beli tanah, dan seterusnya, yang semua makan waktu dan tenaga. Secara agregat ini akan menurunkan produktivitas seorang dosen dalam publikasi.   Hanya dosen yag super yang bisa menulis paper yang berkualitas  di sela kesibukannya mengurus masalah akademis dan tetek bengek urusan hidup yang lain.

Dari masalah makro bangsa ke masalah mikro di dunia kampus, rasanya terlalu berat tugas kita para dosen. Seorang dosen di Indonesia pasti merasakan beratnya beban mengajar. Di PTN-PTN bagus dosen seringkali harus mengajar 3-4 mata kuliah. Jika dia mengajar s2 dan s3 beban ini akan bisa mencapai 6 mata kuliah. Jika dia dituntut untuk mengajar dengan baik, baik dari sisi kehadiran dan isi kuliah maka sudah dipastikan habis waktunya untuk mengajar. Belum lagi kalau dia harus menjabat posisi struktural. Maka akan sulit menyisakan waktu untuk memikirkan publikasi. Sebelum rasio dosen mahasiswa diperbaiki seperti di negara maju, seorang profesor hanya mengajar 2 mata kuliah satu semester, bahkan kadang satu.  Itupun masih dibantu seorang atau lebih teaching asisten yang akan mengerjakan pekerjaan menyiapkan pekerjaan rumah, memeriksa pekerjaan mahasiswa dan memberi nilai serta  memberi tutorial.  Masalah makro yang ruwet dan masalah mikro yang berat telah memberi seorang dosen di Indonesia beban berlipat.

Hal lain adalah jauhnya teori dan praktek. Banyak dosen lulusan luar negeri dengan ilmunya yang mutakhir di bidang tertentu harus menemukan kenyataan, apa yang dia pelajari dan teliti, tidak dijumpai implementasinya di kehidupan sehari-hari. Dosen yang belajar teori optimasi untuk menentukan jalur terpendek untuk menghemat ongkos transportasi dalam pengantaran barang akan frustasi karena di sini budaya kita terbalik. Pengantar surat atau barang justru seringkali menyukai jarak yang lebih panjang. Sehingga dia bisa lama di luar kantor.

Seorang peneliti di bidang data mining, mungkin akan menyerah ketika menjumpai kenyataan begitu sulitnya data didapat baik itu di bank, rumah sakit atau kantor pemerintah. Adanya gap yang tinggi antara teori dan impelementasi kadang men-discourage‘ orang untuk menulis apa yang dia teliti. Sebagian besar pekerjaan yang berkaitan dengan masalah di industri dan perusahaan atau lembaga lain biasanya justru diselesaikan dengan teknik-teknik yang sederhana. Hal-hal yang dipentingkan adalah laporan pekerjaannya. Bukan menulis apa yang dihasilkan dari pekerjaan ini untuk publikasi.

Banyak dosen yang sangat sibuk menjadi konsultan untuk perusahaan namun miskin publikasi. Banyak dosen yang rajin menulis untuk publikasi tapi jarang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi di masyarakat. Jika saja ada kondisi ideal dimana apa yang berkembang di masyarakat sejajar dengan apa yang berkembang dalam dunia akademis maka publikasi akan lebih giat dilakukan para dosen.

Maksud baik kemendikbud untuk mempublikasikan hasil karya mahasiswa patut kita hargai sebagai usaha awal meningkatkan indeks publikasi kita. Namun apakah usaha ini akan berhasil menaikkan indeks publikasi kita, itu yang masih perlu waktu. Sering kali kita keluar dengan ide-ide baru yang cemerlang. Namun sesering itu juga ide itu pada tataran implementasi hanya akan menambah beban baru yang kehilangan rohnya,  yang akhirnya justru kontraproduktif.

Rasanya upaya peningkatan publikasi hanya akan berhasil jika urusan-urusan lain di luar urusan pendidikan yang mendukungnya seperti birokrasi dan perizinan, infrastruktur dan transportasi, kepegawaian, rasio dosen dan mahasiswa dan lain-lain ikut diperbaiki. Tanpa itu usaha publikasi karya mahasiswa dan dosen hanya akan menjadi syarat format kelulusan tanpa makna.