Publikasi bukan Masalah Pendidikan (Semata)

March 25th, 2012 by budi_s@ie.its.ac.id

Apakah jumlah publikasi di jurnal internasional semata-mata menunjukkan kinerja suatu bangsa di bidang pendidikan? Jawabnya tidak.  Mengapa?

Publikasi internasional adalah muara dari banyak usaha di berbagai bidang. Bagaimana ceritanya? Mungkin nggak suatu bangsa dengan gaji dosen yang terbatas bisa diharapkan jumlah publikasi yang tinggi? Bagaimana diharapkan suatu bangsa dengan beban kerja yang tinggi untuk para dosennya diminta untuk rajin melakukan publikasi?

Satu hal yang perlu digarisbawahi ketika orang ribut mengenai publikasi internasional, yaitu bahwa urusan publikasi bukan hanya urusan pendidikan. Jumlah publikasi per jumlah penduduk sesungguhnya adalah ukuran kinerja suatu bangsa. Sulit diharapkan suatu bangsa yang berkinerja buruk di perijinan, birokrasi dan infrastruktur  akan bisa leading di bidang publikasi. Sulit diharapkan suatu bangsa dengan manajemen dan sarana transportasi amburadul diharapkan mempunyai jumlah publikasi yang bagus. Jika kita simak data jumlah publikasi dari berbagai negara, maka peringkat atas didominasi negara-negara maju seperti US, China, Inggris, Japan dan Jerman masing-masing dengan 5.3, 1.8, 1.5 dan 1.4 juta selama 1996-2010. Sementara Malaysia, tetangga terdekat dan seteru kita,  55 ribu dan kita 13 ribu untuk rentang waktu yang sama.

Jika angka-angka ini dibagi dengan jumlah penduduk maka akan semakin keliahatan bagaimana kinerja kita di bidang publikasi ini.  Nyata bahwa jumlah publikasi identik dengan kemajuan bangsa. Maka ketika negara kita ingin menaikkan jumlah publikasi sesungguhnya itu bukan hanya masalahnya depdikbud, bukan hanya masalahnya dunia kampus.

Bayangkan seorang dosen di Indonesia mengurus paspor. Paling tidak, jika tidak lewat agen atau calo, dia harus datang 3 kali ke kantor imigrasi. Paling tidak 16 jam akan dihabiskan dikantor imigrasi. Mulai dari mengumpulkan dokumen, mengisi formulir, antri foto dan ambil paspor memakan hampir 2 hari. Di negara maju permohonan paspor sangat simpel dan tidak memakan waktu. Cukup menyerahkan foto dan formulir. Paspor akan dikirim lewat pos. Jika seorang dosen indonesia kehilangan  2 hari hanya untuk mengurus paspor, di negara maju, dengan 2 hari mungkin seorang dosen bisa menghasilkan satu draft paper dari hasil penelitiannya. Belum urusan yang lain seperti mengurus KTP, pajak kendaraan, jual beli tanah, dan seterusnya, yang semua makan waktu dan tenaga. Secara agregat ini akan menurunkan produktivitas seorang dosen dalam publikasi.   Hanya dosen yag super yang bisa menulis paper yang berkualitas  di sela kesibukannya mengurus masalah akademis dan tetek bengek urusan hidup yang lain.

Dari masalah makro bangsa ke masalah mikro di dunia kampus, rasanya terlalu berat tugas kita para dosen. Seorang dosen di Indonesia pasti merasakan beratnya beban mengajar. Di PTN-PTN bagus dosen seringkali harus mengajar 3-4 mata kuliah. Jika dia mengajar s2 dan s3 beban ini akan bisa mencapai 6 mata kuliah. Jika dia dituntut untuk mengajar dengan baik, baik dari sisi kehadiran dan isi kuliah maka sudah dipastikan habis waktunya untuk mengajar. Belum lagi kalau dia harus menjabat posisi struktural. Maka akan sulit menyisakan waktu untuk memikirkan publikasi. Sebelum rasio dosen mahasiswa diperbaiki seperti di negara maju, seorang profesor hanya mengajar 2 mata kuliah satu semester, bahkan kadang satu.  Itupun masih dibantu seorang atau lebih teaching asisten yang akan mengerjakan pekerjaan menyiapkan pekerjaan rumah, memeriksa pekerjaan mahasiswa dan memberi nilai serta  memberi tutorial.  Masalah makro yang ruwet dan masalah mikro yang berat telah memberi seorang dosen di Indonesia beban berlipat.

Hal lain adalah jauhnya teori dan praktek. Banyak dosen lulusan luar negeri dengan ilmunya yang mutakhir di bidang tertentu harus menemukan kenyataan, apa yang dia pelajari dan teliti, tidak dijumpai implementasinya di kehidupan sehari-hari. Dosen yang belajar teori optimasi untuk menentukan jalur terpendek untuk menghemat ongkos transportasi dalam pengantaran barang akan frustasi karena di sini budaya kita terbalik. Pengantar surat atau barang justru seringkali menyukai jarak yang lebih panjang. Sehingga dia bisa lama di luar kantor.

Seorang peneliti di bidang data mining, mungkin akan menyerah ketika menjumpai kenyataan begitu sulitnya data didapat baik itu di bank, rumah sakit atau kantor pemerintah. Adanya gap yang tinggi antara teori dan impelementasi kadang men-discourage‘ orang untuk menulis apa yang dia teliti. Sebagian besar pekerjaan yang berkaitan dengan masalah di industri dan perusahaan atau lembaga lain biasanya justru diselesaikan dengan teknik-teknik yang sederhana. Hal-hal yang dipentingkan adalah laporan pekerjaannya. Bukan menulis apa yang dihasilkan dari pekerjaan ini untuk publikasi.

Banyak dosen yang sangat sibuk menjadi konsultan untuk perusahaan namun miskin publikasi. Banyak dosen yang rajin menulis untuk publikasi tapi jarang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi di masyarakat. Jika saja ada kondisi ideal dimana apa yang berkembang di masyarakat sejajar dengan apa yang berkembang dalam dunia akademis maka publikasi akan lebih giat dilakukan para dosen.

Maksud baik kemendikbud untuk mempublikasikan hasil karya mahasiswa patut kita hargai sebagai usaha awal meningkatkan indeks publikasi kita. Namun apakah usaha ini akan berhasil menaikkan indeks publikasi kita, itu yang masih perlu waktu. Sering kali kita keluar dengan ide-ide baru yang cemerlang. Namun sesering itu juga ide itu pada tataran implementasi hanya akan menambah beban baru yang kehilangan rohnya,  yang akhirnya justru kontraproduktif.

Rasanya upaya peningkatan publikasi hanya akan berhasil jika urusan-urusan lain di luar urusan pendidikan yang mendukungnya seperti birokrasi dan perizinan, infrastruktur dan transportasi, kepegawaian, rasio dosen dan mahasiswa dan lain-lain ikut diperbaiki. Tanpa itu usaha publikasi karya mahasiswa dan dosen hanya akan menjadi syarat format kelulusan tanpa makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s