Bab 1 Prolog

Pak….Pakeeee…! lengkingan panjang memecah kesunyian malam itu. Belum terlalu malam, sekitar jam delapan. Namun suasana di rumah sakit itu sunyi. Sehingga awal malam itu terasa seperti sudah mendekati tengah malam. Lengkingan itu segera disahut dengan tangisan yang meraung-raung. Mendebarkan. Suara serupa pernah dia dengar ketika tetangga belakang rumahnya mati mendadak sehabis lebaran setahun sebelumnya. Ya suara kehilangan yang sangat.
“Mengapa bapak tidak bilang-bilang dulu. Mengapa nggak meninggalkan pesan kalau mau pergi” terdengar suara perempuan begitu keras agak tersendat. Diiringi tangisan yang menyedihkan dan histeris.
“ Jangankan kamuuuu…., aku yang istrinya saja tidak diberi pesan apa-apa” sahut suara perempuan yang lain sama kerasnya juga agak terbata-bata. Lalu lagi tangisan meraung bersahutan. Tangisan yang khas menyambut kematian. Malam hening berubah gaduh sesaat di ruang itu.
Sindhu merasa aneh cara menyambut kematian seperti itu. Bagaimana perasaan roh si mayat mendengar keluarganya justru pamer kekagetan seperti itu. Ibu anak seakan berebut pengakuan mana yang lebih penting di depan suami dan bapaknya yang mati. Tapi apakah roh punya perasaan? Mungkin mereka ingin menunjukkan begitu mendalam rasa kehilangannya. Yah mungkin yang mati itu adalah tulang punggung keluarga, keberadaannya begitu penting,kepergiannya akan meninggalkan banyak kesulitan. Sindhu tidak tahu apakah begitu itu bagus.
Baginya kematian mestinya disikapi dengan kepasrahan, wajar saja tidak terlalu berlebihan tapi juga bukan berarti disambut dengan suka cita. Dia masih tertidur di emper rumah sakit dimana di ujung teras dibuat tempat duduk agak tinggi diberi sandaran memanjang mengikuti panjang teras. Disitulah para penjaga atau pengunjung pasien biasa beristirahat. Dia memang merasakan hawa kematian sejak sore. Rumah sakit yang biasanya ramai dan gaduh suara pengunjung itu, terasa sepi. Sanak saudara dan tetangga yang bergantian hadir menengok bapak Sindhu sudah pada pulang. Bahkan angin pun terdiam, tidak ada suara daun gemerisik dari pohon sawo manila yang memenuhi halaman rumah sakit itu. Mungkin menyambut kedatangan malaikat maut.

Dia membayangkan bapaknya yang di dalam kamar di depannya juga akan mengalami kematian. Tapi dia berharap tidak ada teriakan histeris seperti kamar sebelahnya tadi. Pak Padmo sudah lama sakit dan puluhan kali keluar masuk rumah sakit dengan sakit yang sama, sesak napas. Bu Padmo yang mendampingi serta merawat Pak Padmo dengan telaten dan sabar bukan tipe orang yang kagetan seperti dua perempuan yang adu tangisan tadi. Dia berharap kematian bapaknya nanti, kalau datang dan pasti datang, tidak akan disambut dengan tangisan kesedihan seperti itu, walaupun kesedihan pasti mengiringinya. Kadang kematian memang jalan terbaik mengakhiri penderitaan.

Kematian seperti itu sudah tentu baik bagi semua. Yang sakit, keluarganya dan yang merawat. Bagi rumah sakit juga baik toh tidak akan kekurangan pasien. Umur panjang tidak selalu membawa berkah jika harus dijalani dengan penuh penderitaan dan siksaan. Tapi barangkali itu cara Tuhan mengurangi penderitaan di alam kubur sana, siksaan diberikan sebagian di dunia dengan memberi rasa sakit.

Dia, Sindhu, masih tiduran di teras pavilyun rumah sakit. Mendengar keributan pengeluaran jenazah dari kamar sebelah. Dia tidak melihat lalu lalang orang, dia sengaja menelungkupkan badan. Dia takut akan merasa ketakutan melihat mayat didorong diatas tempat tidur yang beroda oleh para suster diikuti keluarganya yang masih menangis. Sindhu lebih baik tidak mempedulikan itu walaupun sangat ingin. Sindhu harus tidur di teras itu sepanjang malam menemani Bu Padmo yang didalam ruang bersama Pak Padmo. Ia masih memikirkan kondisi Pak Padmo yang sekian tahun sakit. Sakit yang mudah dimaklumi. Tadi malam kondisi Pak Padmo sungguh mengkhawatirkan. Perutnya bengkak, kata dokter livernya sudah kena. Tidak tahan memakan banyak obat berdosis tinggi. Dokter secara tidak langsung nampaknya sudah menyerah dengan kondisi seperti itu. Sulit dipulihkan.
Tanpa diduga ada sepupu ipar Sindhu datang menjenguk ke rumah sakit. Sepupunya yang dikenal bandel itu membawa obat yang tidak biasa. Sobekan kertas bertuliskan huruf Arab. Dari dukun di suatu tempat di Boyolali. Entah apa tulisan Arab itu bunyinya. Konon dukunnya sendiri nggak bisa baca huruf Arab. Anehnya bisa membuat obat seperti itu. Kertas itu diminta direndam di air lalu airnya diminumkan ke si sakit. Malam tadi ketika terbangun, Bu Padmo memberi minum ke suaminya. Pak Padmo sejak dulu tidak suka hal-hal berbau klenik atau mejik atau perdukunan. Semua harus masuk akal, bisa dijelaskan.
Bu Padmo pernah suatu ketika pergi ke orang pinter untuk suatu keperluan. Ketika pulang Pak Padmo bertanya

“Darimana tadi?”
“ Nyari obat”, jawab Bu Padmo asal.
“Jangan diulangi lagi ke dukun. Kalau pingin kaya ya kerja keras. Kalau anak-anak pingin pinter, suruh mereka belajar yang rajin, kasih makanan yang bergizi. Dukunnya saja tidak bernasib baik kok dipercaya memberi nasib baik. Bodohnya orang yang percaya dukun” sahut Pak Padmo sedikit emosi.
Sejak itu Bu Padmo kapok ke dukun; selain takut, juga pada alasan yang diberikan suaminya tidak ditemukan kesalahan. Apalagi kalau benar tulisan di kertas itu ayat dari Qur’an, Pak Padmo pasti akan protes walaupun dia sendiri bukan pengamal agama yang baik. Ayat qur’an bagi dia adalah perintah untuk dijalankan yang akan memberi petunjuk hidup bagi manusia. Bukan sebagai mantra untuk obat atau dihafal dan dibaca berulang untuk mendapatkan nasib baik. Tapi malam tadi Bu Padmo merayu untuk minum saja. Mungkin merasa dirinya sudah dalam keadaan sangat lemah dan tidak bisa lagi menahan sakit, kerewelan atas logika yang harus masuk akal itu dia lupakan. Diminumlah air itu.
Ajaib. Sungguh ajaib. Tadi pagi perut bengkak itu kempes. Tidak lagi bengkak dan Pak Padmo menjadi seperti sehat kembali. Ketika dokter siangnya melakukan kontrol, dibuat takjub.

“Lho kok bisa begini bu perutnya bapak?”

“iya ada resep dari saudara, saya minumkan saja”
“Resep apa?”
“Air putih saja”
“Air putih saja?” dokter meninggikan suara, heran .
Pembicaraan itu tentu tidak didengar oleh Pak Padmo. Takut akan bertanya lebih jauh soal asal usulnya. Dokternya pun tidak marah walaupun secara medis tidak bisa dijelaskan, nyatanya perut yang bengkak itu kempes, sembuh. Dia tidak bisa menolong lebih jauh mengapa harus marah. Dokter memperkirakan pasiennya itu tinggal menunggu waktu untuk dipanggil Sang pencipta. Bisa pagi tadi atau siang atau malam ini. Yang terjadi justru laki-laki di kamar sebelahnya yang dipanggil lebih dulu oleh Pemilik hidup ini. Dokter memang tidak boleh merasa paling tahu dengan ilmunya.

Tentu banyak cara menjadi sehat. Ada sakit ada obat, obat tidak harus berasal dari dokter yang berupa obat-obatan kimia. Konon dukun yang memberi obat itu memang sakti bagi setidaknya sepupu bandel itu. Ketika mau ujian sekolah tinggi, dia datangi dukun itu untuk mendapatan resep agar mendapat nilai A untuk semua mata kuliah. Permintaan yang nggak wajar mengingat dia bukan anak yang pinter atau rajin. Tapi semua orang bisa minta apa saja ke dukun. Dan dukun biasanya mengiyakan, asal ada bayarannya. Berhasil atau tidak terserah. Bagaimana pertanggungjawaban dukun dengan pelanggan tidak pernah jelas.Tapi suatu keajaiban memang terjadi setelah itu. Nilai Mata kuliahnya semua A. Teman-temannya tidak percaya. Tapi itu kenyataan.

Sindhu pernah suatu saat minta diantar ke dukun itu karena rasa penasaran. Untuk sekedar tahu dan kalau bisa mengobati sakitnya, kepala sering pusing. Rumah si dukun di area kebun luas yang isinya bermacam pohon, mirip hutan. Rumah kecil dari gedheg bambu, tinggal sendirian, kurus seperti umumnya petani di daerah itu. Tidak kelihatan sebagai dukun yang memakai pakaian yang menyeramkan atau membakar dupa atau kemenyan. Sindhu diberi ramuan tulisan Arab. Tetapi obat itu nyatanya tidak manjur. Masih sering sakit kepala itu datang. Tapi tidak dipungkiri dukun itu menyembuhkan sakit Pak Padmo yang dokter sendiri sudah pesimis. Seingat Sindhu kalau bapaknya sakit dan dibawa ke rumah sakit yang ini, selalu saja pulang dalam keadaan lebih buruk, tidak sembuh.

Sembuhnya justru oleh ramuan dukun atau tukang pijet yang diam-diam diselipkan diantara tindakan dokter di rumah sakit. Tapi namanya orang sakit kadang reputasi rumah sakit tidak penting, asal dekat dari rumah ya itu yang dituju. Sindhu sebagai anak bungsu, dialah yang sering pulang menemani Bu Padmo. Dia sendiri bekerja sebagai wirausahawan .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s