Mengenang Pramoedya

Hari ini Pramoedya Ananta Toer menjadi Googel doodle . Google ingin mengenang kelahirannya hari ini, 6 Februari, 92 tahun lalu. Pengarang besar yang pernah dimiliki Indonesia. pejuang kemanusiaan yang selalu melawan ketidakadilan kapan saja. Dia musuh Belanda, ditahan jaman Soekarno, apalagi jaman Suharto. Sampai kini banyak orang mencapnya sebagai komunis, sesuatu yang tidak pernah dibuktikan dipengadilan. Dia menjalani 14 tahun hidupnya di penjara sejak 1965, pernah di penjara Guntur, Salemba dan Pulau Buru. Anaknya , Astuti Ananta Toer dalam buku Cahaya Mata Sang Pewaris, Kisah Nyata Anak Cucu Korban Tragedi 65, menceritakan bagaimana bapaknya menjalani penyiksaan tentara yang kejam sewaktu di penjara di Salemba. Dia adalah seorang ayah yang sangat mencintai istri dan anak-anaknya, disiplin dan sangat peduli dengan pendidikan, itulah yang dikenang anaknya. Karya tetraloginya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca lahir dari dalam penjara.
Karena statusnya itu pula yang membuat banyak orang mengira jika membicarakan Pram berarti membicarakan kebangkitan PKI, logika yang absurd. kalau kita berpikir dengan cara seperti itu secara konsisten maka tidak ada buku teks bahasa inggris yang dipakai di kuliah akan dibaca, atau produk teknologi akan kita tolak semuanya hanya gara-gara penemunya kita cap kafir atau tidak beragama. Nyatanya kita tidak begitu, kita sering menolak pahamnya tapi tetap memakai karyanya.

Pram pernah dinominasikan untuk menerima penghargaan nobel sastra. Bentuk pengakuan dunia terhadap karya-karyanya,adalah banyaknya karya Pram yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Sementara buku sastra resmi di sekolah jarang menyebut nama dan karyanya. Karyanya cerdas, bahasanya tajam dan didasari dengan studi literatur yang mendalam.
Pram pernah dipenjara tahun 1960 karena menulis buku Hoakiau di Indonesia. Buku yang berkisah tentang pendapatnya soal Hoakiau di Indonesia, dia membela suku Tionghoa di Indonesia. kebudayan Tionhoa demikain kuat masuk dalam budaya Indonesia, bahkan kita belajar bisnis dari orang Tionghoa.
Saat itu sedang marak pembatasan etnis Tionghoa di Indonesia. Jadi Pram bisa dicatat sebagai orang pertama yang membela suku Tionghoa dalam sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Pram juga yang selalu menggaungkan ide Indonesia sebagai negara maritim karena terdiri dari banyak pulau dengan wilayah lautnya yang luas. Maka jika Indonesia ingin maju maka harus membangun industri maritim, termasuk Angkatan Laut nya yang harus diperkuat.
Saya tidak membaca semua karya Pramudya, tapi saya ingin menunjukkan apresiasi terhadap sastrawan hebat yang diakui dunia. Karyanya yang cerdas telah menginspirasi banyak orang tentang perjuangan, tentang kerja keras, nasionalisme, pembelaan terhadap kaum lemah. Saya mengaguminya dalam hal dia tidak berdiri pada satu sisi, semua ketidakadilan dia lawan.
Beberapa tahun belakangan, dia mengirim anaknya beserta calon menantunya untuk belajar Islam ke Buya Hamka.sekaligus mengIslamkan calon menantunya.
“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.”

Prof Budi Santosa Purwokartiko..dosen TI ITS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s