Trump Lupa Sejarah?

Thomas Friedman, salah satu penulis berpengaruh di US, bersama Michael Mandelbaum salah satu profesor dalam kebijakan luar negeri terkemuka, dalam bukunya That Used To Be Us, How America Fell Behind in the World It Invented and How We Can Come Back, menceritakan bagaimana AS mulai tertinggal dari China pada beberapa hal terutama pada dunia yang dulu AS bangun.
Dia becerita bagaimana sebuah convention center kelas dunia dilengkapi dengan eskalator raksasa di setiap sudut bangunan hanya diselesaikan dalam waktu 32 minggu di Tianjin, China. Sementara di Washington DC perlu waktu 24 minggu hanya untuk mereparasi dua eskalator kecil dengan masing-masing terdiri dari dua puluh satu anak tangga. Ini adalah cermin mulai mundurnya Amerika dalam persaingan dunia. Itu hanya salah satu contoh. Friedman pun mencatat bahwa super komputer tercepat yang ada pada saat itu adalah buatan China. Begitupun bandar udara terbagus justru dibangun di Singapura bukan di AS.
Itulah yang membuat Obama bilang, that used to be us. Dulu segala yang super justru dihasilkan oleh Amerika. Friedman mengkritik kebijakan Bush pasca serangan 11/9, 2001 yang membuat Amerika menjadi negara yang terlalu protektif, di beberapa belahan dunia tidak disukai karena kebijakan anti terorisnya yang berlebihan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi yang selalu didengungkannya. Dalam beberapa hal justru ini menghambat kemajuannya.
Kini Trump seperti melengkapi apa yang dulu dilakukan Bush. Tantangan globalisasi yang membuat AS maju, dibawah Trump justru diganti dengan kebijakan anti globalisasi. Dia mengisolasi diri secara geografis. Membangun tembok pembatas dengan Meksiko. Meksiko termasuk salah satu pensuplai tenaga kasar bagi banyak industri di AS. Low-skill yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur dan pekerja kasar di beberapa industri. Trump juga akan mengenakan tarif impor tinggi terhadap produk China dan Meksiko hingga 40%. Kebijakan yang justru berlawanan dengan prinsip globalisasi. Sementara China semakin memperbesar ekspansi pengaruhnya di negara-negara yang dulu dekat dengan AS secara geografis amaupun dari sisi kerjasama.
Belum hilang keterkejutan publik internasional atas terpilihnya Donald Trump , kini Trump mengambil beberapa langkah yang lebih mengejutkan lagi, membatasi muslim masuk AS dan pemberlakukan policy anti imigran dan bahkan membangun tembok pembatas AS-Meksiko. Memang itu termasuk janji kampanyenya. Tapi orang tidak menyangka secepat itu dia melaksanakan janji kampanye . Ribuan orang menentang kebijakan ini melalui aksi demo di beberapa kota di AS bahkan sampai London. Namun Trump jalan terus dengan kebijakannya, bahkan Jaksa Agung Sally Yates yang dianggap ‘berkhianat’ atas perintah pelarangan imigran, menjadi korban pertama Trump yang mengalami pemecatan.
Pada 1907, Theodore Rosevelt mengijinkan 1,2 juta orang masuk ke AS sebagai imigran menjelang tahun terakhir masa jabatannya, jumlah terbesar yang pernah ada. AS adalah negara para imigran, begitulah faktanya. Penerusnya beberapa tahun kemudian, Franklin D Rosevelt menerima ribuan pengungsi dari Eropa pada paruh akhir 1930an dimana para pengungsi itu terdiri dari ilmuwan, ahli fisika, penulis, seniman, musisi ahli sejarah dan intelektual. Mereka adalah generasi yang membangun AS pasca PD II. Salah satunya adalah Albert Einstein, yang akhirnya mengubah kepemimpinan intelektual bergeser dari Eropa ke AS.
Direktur National Science Foundation (LIPI-nya AS) beberapa tahun lalu, Subra Suresh, seorang keturunan india yang sebelumnya Profesor di MIT mencatat ada setidaknya 3 juta orang India menjadi permanen residen atau bahkan warga negara di AS. Mereka kebanyakan berprofesi sebagai ilmuwan, dokter dan akademisi. Lebih dari 40% dosen di school of engineering MIT adalah orang-orang kelahiran negara lain. Ini menunjukkan bagaimana AS dibangun karena kedatangan para imigran. Kemajuan AS selama ini banyak didukung karena hadirnya para imigran. Mulai dari Einstein, Steve Job, bahkan Obama adalah anak imigran.
Kini Trump seakan lupa sejarah bahwa imigranlah yang telah berhasil membuat AS menjadi negara super power. Trump tak ayal lagi adalah pemimpin AS dengan kebijakan paling aneh dalam dalam sejarah Amerika pada 3 abad terakhir. Di tangan Trump, Amerika bukanlah tempat yang nyaman bagi para imigran, berbeda dengan yang selama beberapa dekade berlangsung.
Amerika Serikat adalah negara besar, kuat secara ekonomi, maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta kuat dalam pertahanan selama beberapa dekade. Mereka menguasai dunia setidaknya sejak selesai Perang Dunia 2, menggantikan Britania Raya. Uni Soviet adalah pesaingnya hingga akhir perang dingin pada 1990an, ketika Soviet terpecah menjadi negara-negara kecil. Melihat kekuatannya dalam hampir segala bidang tidak terbayang bagaimana AS akan mampu dikalahkan oleh negara lain. Kemunduran Amerika bisa terjadi mungkin karena kebijakan dari dalam. Apakah Trump orang yang akan membuat AS makin mundur dan tertinggal?
Salah satu tantangan besar yang dihadapi AS ke depan, menurut Friedman dan Mandelbaum adalah tantangan globalisasi dan jumlah utang serta defisit tahunan yang makin besar. Dalam hal globalisasi AS adalah pelopor sekaligus penikmatnya. Globalisasi dunia adalah ciptaan AS dengan pasar bebasnya. Tidak bisa dipungkiri As mendapat banyak keuntungan ekonomi lewat globalisasi dan juga pasar bebas. Namun dengan itu negara lain ikut menikmati dan bahkan membuat AS tertinggal. Contoh kasus Tianjin adalah salah satu. AS juga menderita defisit tahunan yang tidak kunjung turun dalam beberapa tahun terakhir . Begitu juga dengan jumlah utang yang mencapai hampir US $ 19 trilyun. Jumlah yang terburuk selama 240 tahun sejarah Amerika, tidak saja dalam nominal namun juga prosentase terhadap GDP. Pada 2011 hutang ini mencapai ‘baru’ US $14 Trilyun. Dalam 5 tahun terakhir terjadi peningkatan yang mengkhawatirkan. Obama nampaknya belum mampu memperbaiki kinerja keuangan AS.
Berdasarkan pengalaman, salah satu pilar yang selama ini membuat AS bisa menjaga kemakmurannya adalah mengijinkan secara konstan imigran masuk AS (Frieman & Mandelbaum, 2011). Imigran dengan low-skill namun mempunyai cita-cita tinggi berhasil menjadikan masyarakat Amerika yang penuh semangat dan energi.Imigran seperti dari Timur Tengah dan Vietnam. Imigran dengan otak cerdas untuk memajukan universitas, memulai pendirian perusahaan baru dan mempelopori temuan baru dalam bidang IT, obat-obatan hingga manufaktur, seperti dari Eropa.
Trump nampaknya sedang membuat pilar kemajuan ini roboh. Jika ada sebuah negara besar yang sulit dikalahkan oleh bangsa lain karena kekuatannya, barangkali justru keruntuhannya akan disebabkan faktor dari dalam. Banyak contoh dalam sejarah termasuk salah satunya adalah kerajaan besar Majapahit. Kini dalam sejarah modern orang mulai khawatir dengan kebijakan yang diambil oleh Donald Trump. Kemunduran yang sudah mulai terlihat belakangan di AS rasanya akan dipercepat oleh Trump.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s